Dulu, ada satu keyakinan naif yang gue pegang lama banget: makin tinggi title akademis seseorang, makin tinggi juga penghasilannya. Sesederhana itu di kepala gue. Aneh sih kalau diinget sekarang, tapi itu keyakinan yang justru jadi titik awal kenapa gue ngotot pengen lanjut S2 — bahkan jauh sebelum gue dapet kerjaan pertama.
Butuh beberapa tahun kerja buat gue sadar, motivasi itu terlalu dangkal buat sesuatu yang bakal makan waktu, uang, dan energi segede itu. Tapi keinginannya sendiri nggak pernah hilang. Justru makin dalam gue kerja, makin gue ngerasa ada gap yang nggak bisa ditutup cuma dengan pengalaman lapangan.
Empat tahun kerja, dan dorongan yang nggak cuma soal karier
Gue mutusin lanjut S2 setelah sekitar empat tahun kerja. Tapi kalau ditanya apa "trigger"-nya, jujur nggak ada satu kejadian dramatis di kantor yang bikin gue tiba-tiba mikir "gue harus sekolah lagi". Ini lebih ke rencana yang udah gue pasang dari awal, yang alasannya berevolusi seiring waktu.
Awalnya soal gengsi title dan ekspektasi income, seperti yang gue certain di atas. Tapi makin lama, itu berubah jadi sesuatu yang lebih personal: gue emang haus ilmu, pengen push diri gue lebih jauh dari yang gue kira mampu. Ada juga dorongan dari rumah — orang tua gue lulusan S2, dan entah kenapa itu bikin gue ngerasa ada standar minimal yang harus gue capai, syukur-syukur bisa lebih dari mereka. Dan waktu itu gue juga udah mulai mikir jauh ke depan: kalau nanti gue punya anak, minimal dia punya contoh nyata dari bapaknya bahwa belajar itu nggak berhenti di S1. Itu bukan tuntutan yang gue taruh ke anak gue, tapi standar yang pengen gue kasih liat duluan.
Kenapa bukan elektro lagi — dan kenapa akhirnya MBA
Ini bagian yang paling sering ditanya orang ke gue. Gue kerja di product development bank digital, latar belakang gue teknis, pernah jadi software engineer juga. Jadi kenapa nggak ambil master di bidang teknis yang sama, biar makin dalam?
Jujur, itu sempat jadi rencana awal gue. Gue mikir mau lanjut elektro, keilmuan yang sama kayak S1 gue, biar makin "master" di situ. Tapi begitu gue pikir lebih jauh, itu nggak nyambung sama arah karier gue sekarang. Paling banter ujungnya gue jadi dosen — dan buat jadi dosen yang bagus, gue ngerasa pengalaman gue kurang, bakal kalah saing sama orang yang emang udah nyiapin jalan itu dari jauh hari.
Dari situ gue switch, dan jujur aja nggak pake proses panjang. Gue orangnya kalau kelamaan mikir malah nggak jadi-jadi. Titik masalahnya sederhana: gue udah ngerti teknis, tapi di tempat gue kerja sekarang, gue sama sekali nggak ngerti bisnis. Gue pengen tau dunia bisnis itu kerjanya kayak apa, secara practical — bukan cuma teori. Dan gue emang tipe orang yang lebih gampang paham hal-hal yang bisa langsung diimplementasikan dan dianalogikan ke kerjaan nyata. Logikanya sederhana: kalau gue kuat di teknikal DAN bisnis, gue bakal punya skill dan value yang lebih dari kebanyakan orang seangkatan gue.
Biaya yang nggak main-main, dan cara gue bikin damai sama itu
Biar jujur aja, MBA itu mahal — hampir 3 sampai 4 kali lipat dibanding S2 reguler kayak engineering. Ini bukan keputusan kecil.
Sebelum mutusin, gue emang riset. Termasuk riset soal seberapa besar lulusan MBA bisa leverage salary mereka setelahnya. Bukan itu tujuan utama gue, tapi jujur aja itu salah satu faktor yang ikut nimbang keputusan. Kalau ditanya sekarang, seandainya waktu itu hasil risetnya nunjukkin MBA nggak ngefek sama sekali ke income — gue tetep bakal lanjut. Cuma, rencana hidup gue ke depannya, terutama yang berhubungan dengan finansial, pasti bakal gue adjust. Buat gue itu bukan soal kecewa, tapi soal nurunin ekspektasi dari awal biar nggak nabrak kenyataan belakangan.
Kenapa ITB
Gue sempat bandingin kurikulum ITB sama sekolah lain. Secara isi, sebenernya mirip-mirip aja. Yang bikin ITB menang buat gue itu dua hal: kekuatan ikatan alumninya, dan rekam jejak sukses alumni-alumninya. Kedengarannya emang faktor sosial ketimbang konten akademis — dan gue nggak bakal nyangkal itu. Tapi buat gue, network dan rekam jejak itu justru bagian dari value sebuah sekolah bisnis, bukan cuma bonus tambahan.
Titik terendah: jam 2 pagi di jalan tol Bandung–Jakarta
Ini bagian yang paling jarang gue certain, tapi paling nempel di ingatan gue.
Selama dua tahun, gue ngambil kelas Jumat-Sabtu-Minggu, yang artinya gue bolak-balik Jakarta-Bandung setiap minggu sambil tetap kerja full time di Jakarta. Bayangin ritme itu — kerja lima hari, lanjut tiga hari lagi buat kuliah, tanpa jeda yang berarti, selama dua tahun penuh.
Ada satu malam di pertengahan tahun kedua yang masih jelas banget di kepala gue. Sekitar jam 2 pagi, gue dan beberapa temen seperjalanan otw balik ke Jakarta abis nyelesain tugas kelompok. Capeknya udah di titik yang susah dijelasin. Di mobil itu, kita sempat ngomongin serius soal nyerah aja — udahan, cukup sampai sini. Yang akhirnya nahan kita bukan motivasi besar soal masa depan atau cita-cita. Kita saling nguatin satu sama lain, dan — ini yang paling jujur — kita inget itu uang pribadi kita sendiri yang dipakai. Sayang aja rasanya kalau berhenti di tengah jalan. Dari titik konyol itu, kita nemu lagi semangat buat nyelesain apa yang udah kita mulai.
Pelajaran yang masih gue pakai sampai sekarang
Ada satu studi kasus yang sampai sekarang masih jadi rujukan cara gue mikir di kerjaan. Ceritanya soal perusahaan multinasional yang perlu ngelakuin efisiensi operasional, tapi mereka nggak ambil jalan pintas dengan langsung PHK orang. Mereka pilih transformasi lewat pembaruan teknologi dan cost cutting sementara, sambil tetap ngasih orang-orangnya penghasilan sampai hasil transformasi itu kelihatan.
Dosen gue waktu itu selalu bilang satu kalimat yang masih gue pegang: "Doing the right thing, instead of doing things right." Bukan cuma ngejar angka atau efisiensi di atas kertas, tapi mikirin pilihan yang emang bijak buat semua pihak. Dan ini bukan omongan orang yang cuma jago teori — hampir semua dosen di kelas gue itu praktisi dengan jabatan direktur, jadi teorinya udah teruji sama pengalaman nyata mereka sendiri.
Pelajaran itu yang gue bawa ke kerjaan gue sekarang, di mana gue yang mutusin apakah sebuah fitur atau produk itu layak dibangun atau nggak. Gue belajar mandang orang — baik tim gue maupun user — sebagai asset, bukan cuma resource yang dihitung angka doang.
Kalau lo lagi galau mau lanjut S2 atau nggak
Jawaban jujur gue: lanjut aja. Ilmu itu nggak akan pernah selesai kita kejar seumur hidup, tapi itu bukan alasan buat berhenti belajar. Bahkan wahyu pertama yang turun di Al-Qur'an itu perintah "Iqra" — bacalah. Buat gue, itu pengingat kalau mengejar ilmu itu bukan pilihan, tapi panggilan yang seharusnya nggak pernah kita tolak.
Tapi gue juga nggak mau kasih gambaran yang kelewat indah. Dulu gue kuliah sambil kerja, dan itu berat — bener-bener berat, sampai titik gue dan temen-temen gue nyaris nyerah di jalan tol jam 2 pagi. Kalau lo punya opsi buat fokus kuliah aja tanpa nyambi kerja, itu jelas lebih ringan secara fisik dan mental. Tapi gue sendiri dulu mutusin nyambi, karena dua alasan: gue tetap butuh income, dan gue percaya belajar sambil langsung implementasi ke kerjaan nyata itu lebih berharga dibanding cuma teori doang tanpa konteks.
Jadi kalau lo nanya worth it apa nggak — worth it. Tapi siapin diri lo buat capek yang nyata, dan pastiin lo punya orang-orang di sekitar lo yang bisa saling nguatin pas titik terendah itu dateng. Karena itu bakal dateng.

